Selasa, 02 Oktober 2012

MUSIK SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI POLITIK #BidgingCourse07



            Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian.[1] Musik merupakan bagian dari seni. Musik dapat menjadi media untuk mengekspresikan diri, menuangkan imajinasi, menceritakan sesuatu, dan lain sebagainya. Fungsi musik pada awalnya adalah sebagai media hiburan.
            Pada kenyataannya, fungsi musik dapat dilihat dari berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Selain menjadi media hiburan, musik dapat menjadi media terapi, perangsang intelgensia, membantu tumbuh kembang bayi, pengatur psikologis, dan media komunikasi antar manusia. Sesuai dengan judul yang dipilih, penulis akan membahas lebih mendalam tentang musik sebagai media komunikasi, terutama sebagai media komunikasi politik.
            Musik berfungsi sebagai media komunikasi antarmanusia karena musik merupakan bahasa universal yang mampu memadukan perbedaan, menciptakan perdamaian dan solidaritas kemanusiaan. Sejarah sering kali mencatatkan peran dan manfaat musik sebagai sarana pergaulan dan media komunikasi yang bisa dipahami semua orang, sekalipun kita tidak memahami bahasa tiap-tiap bangsa.[2]
Musik sebagai media komunikasi yang dimaksud di sini adalah penggunaannya (used). Contohnya, orang tua menyanyikan lagu nina bobo ketika anaknya beranjak tidur. Fungsi musik dalam hal ini adalah sebagai media komunikasi untuk mengekspresikan kecintaan orang tua terhadap anaknya, dengan harapan anaknya dapat tidur nyenyak. Contoh lain adalah lagu-lagu yang bertemakan cinta. Lagu-lagu tersebut menjadi media komunikasi bagi sepasang kekasih untuk menyampaikan perasaan sayang dan cinta yang dimilikinya. Walaupun pada kenyataannya dalam dua contoh di atas
            Selain sebagai media komunikasi antarmanusia, musik juga digunakan sebagai media komunikasi anatara manusia dengan hal supranatural (ghaib). Di beberapa tempat, khusunya di pedalaman Indonesia musik digunakan sebagai media komunikasi untuk hal-hal supranatural (ghaib). Sebagai contoh pada msayarakat Pelalawan provinsi Riau, musik dijadikan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan berbagai permintaan penyembuhan yang diselenggarakan dalam bentuk ritual pengobatan. Alat musik yang digunakan adalah perkusi ketobung sebagai pengiring nyanyian sesembahan. Dalam hal ini musik menjadi media komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta untuk tujuan tertentu, yakni meminta kesembuhan.
            Di era demokrasi ini, khususnya di Inodonsia, musik tidak hanya sebagai media komunikasi seperti yang telah disebutkan di atas. Dalam penggunaannya, musik berkembang dan mulai merambah di kancah politik nasional. Musik digunakan sebagai media komunikasi politik dalam bentuk lagu. Banyak lagu yang beredar di masyarakat berisi tentang curahan hati rakyat, sindiran, kritikan kepada wakil rakyatnya. Lagu dipilih karena dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Musik dapat didengarkan semua kalangan. Mulai dari masyarakat kecil hingga pejabat negeri ini.
            Lagu digunakan sebagai media komunikasi politik oleh rakyat kecil yang tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya melalui partai atau media massa. Beberapa musisi Indonesia telah menciptakan banyak lagu tentang politik. Rakyat biasa juga berpartisipasi dengan cara membuat lagu kemudian diupload ke dalam situs Youtobe.
            Salah satu musisi dengan lagu-lagu politik yang terkenal adalah Iwan Fals. Berbagai lagu tentang dunia politik telah ia ciptakan. Judul-judul lagu Iwan Fals antara lain wakil rakyat, politik uang, sumbang, idealisme yang tergadai dan lain sebagainya. Tidak hanya musisi solo, sebuah band bergenre musik rock bernama Slank juga terkenal dengan lagu-lagunya tentang dunia politik. Bahkan Slank mendapat penghargaan dari KPK sebagi duta antikorupsi.[3] Sebuah lagu berjudul Seperti Para Koruptor membuat Slank berhasil meraih penghargaan tersebut.
            Sindiran lain yang diberikan kepada pelaku politik nasional datang dari Bona Paputungan. Redivis Lapas Gorontalo ini mendadak terkenal karena mengupload sebuah lagu berjudul “andai aku gayus tambunan”. Video clip dari lagu tersebut menceritakan tentang Gayus Tambunan yang hidup enak dan bebas saat berada di penjara.[4] Sementara rakyat biasa tidak yang masuk penjara tidak bisa berbuat sebebas Gayus Tambunan.
            Munculnya lagu tersebut merupakan sebuah tamparan keras bagi pemerintah yang terkesan lembek dalam menangani kasus-kasus, terutama korupsi. Lagu tersebut merupakan simbol tekanan besar rakyat kepada pemerintah untuk mengusut tuntas kasus Gayus Tambunan. Hal ini menunjukkan bahwa musik merupakan media komunikasi politk yang efektif.
            Selain sebagai media kritik terhadap pemerintah, musik juga sebagai media kampanye. Sebagai contoh pada pilkada Cagub dan Cawagub DKI Jakarta bulan lalu, banyak masyarakat yang mengupload video ke you to be tentang 2 calon besar, yakni Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Video tersebut berisi tentang pro dan kontra terhadap kedua calon tersebut. Beberapa video ada yang berisi lagu tentang dukungan kepada calon. Akan tetapi, ada juga video yang saling menjatuhkan antarcalon.
            Dalam kampanye partai poltik biasanya kader mengadakan berbagai acara.Salah satunya adalah dengan mengadakan acara musik, seperti mengadakan pentas band-band, acara organ tunggal, acara dangdut, dan lain sebgainya. Dalam hal ini musik menjadi media komunikasi antara pelaku politik untuk menarik perhatian masyarakat.
           
            Tanpa kita sadari musik sudah menjadi bagian dari perpolitikan nasional. Mulai dari kritikan, sindiran, dan dukungan dapat disuarakan melalui musik. Ketika tidak ada lagi kesmepatan untuk berbicara, musik menyuarakannya. Musik terbukti menjadi media komunikasi politik yang efektif.





[1]  5 April 2011 KBBI. 5 April 2011
[2] Diakses dari http://niahidayati.net/manfaat-musik-dalam-kehidupan-sehari-hari.html pada tanggal 3 September 2012 pukul 06:31.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar